Instragram

Instagram

Friday, 7 July 2017

Untuk anakku, Frantino Matthew Hutagaol

Untuk Ino,
Anakku yang kukasihi,

Ino, mommy menulis surat ini dan mengirimnya karena memang entah kenapa, mommy ingin Ino mengalami “rasa” itu…
Rasa dimana saat sebuah benda yang terbungkus seperti sebuah kado, mungkin bukan kado yang istimewa, tapi menjadi sebuah representasi “pemberian”. Karena setiap hari dalam hidup kita adalah pemberian Tuhan yang istimewa, mungkin tampaknya seperti sebuah hari biasa dengan durasi yang tak lebih dari 24 jam, namun sejak entah ikapan, mommy selalu menganggap setiap hari memiliki “pemberian” nya sendiri, setiap guratan cahaya matahari di langit memiliki “janji”nya sendiri, dan setiap detik, menit dan jam yang bergulir memiliki mujizatnya sendiri.

Anakku, tidak panjang umurmu bersama mommy, hampir sepuluh tahun yang lalu, mommy akhirnya mengambil sebuah keputusan berat dengan bayaran yang sudah terbukti sangat mahal. Beberapa waktu yang lalu, serangkaian kejadian terjadi dan ada sebuah momen dimana mommy sampai terpukul karena mendengar isak tangis abang… ya “abang” adalah panggilan Ino, sebuah panggilan yang telah mommy berikan walau waktu itu Eli bahkan belum ada dalam kandungan mommy.

Kenapa abang menjadi panggilanmu, nak? Karena di waktu mommy tahu mommy mengandung Ino, mommy selalu bilang pada Tuhan, “Anak ini akan menjaga anakku Misha”, iya, Misha adalah panggilan kakakmu waktu itu. Panggilan sayang dari mendiang mama nya Mommy, Opung-mommy yang tak sempat abang kenali dan merasakan bagaimana rasanya memeluk abang saat abang lahir ke dunia ini.  Selain itu, kenapa mommy memutuskan memanggilmu “Abang” meskipun umurmu baru beberapa jam, karena mommy tahu, panggilan itulah yang akan diberikan oleh Opung-mommy atau Opung-daddy semisal mereka bisa menyambut kelahiranmu.

Surat ini mommy tulis sebagai bentuk ucapan dan permohonan maaf mommy kepada abang, karena mommy menyadari, akanlah terlalu banyak bila mommy meminta sesuatu kepada abang. Seperti mommy pernah bilang kepada abang, abang tidak perlu mencintai mommy, tahukah nak? Mommy berdosa mengatakan itu, karena itu adalah bentuk dari keputus asaan mommy karena kehilangan harapan, harapan bisa bersama dengan abang lagi, entah kapan itu, dan bagaimana, entah kenapa, harapan itu telah hilang dan setiap bisikan doa lah yang mampu membuat mommy bertahan.

Apakah mommy menunggumu, nak?
Tidak sayang… Bukan karena abang tak layak untuk ditunggu, tapi mommy ingin abang tahu bahwa mommy tidak akan memberikan tekanan apapun pada abang dengan menunggu abang untuk suatu hari datang pada mommy dan memeluk mommy lagi. Di tengah derita merindukan abang dan masih bertanya-tanya mengapa keadaan ini begitu tidak bisa dimengerti, sekali lagi, mommy tidak berhenti memanjatkan doa dan harapan mommy untuk kebahagiaan abang. Mommy tidak berhenti memohon pada Tuhan agar abang terlepas dari belenggu gundah gulana dan ribuan pertanyaan mengapa ini semua bisa terjadi. Karena, mommy akhirnya memutuskan untuk berhenti bertanya, berhenti meminta penjelasan padaNya dan menyerahkan semua padaNya dengan tetap percaya, bahwa segala sesuatu baik. Terutama baik untuk abang, untuk kakak dan untuk adek.

Anakku, tetaplah memiliki hati yang lembut dan tulus, karena dunia dipenuhi dengan begitu banyak kepalsuan, tanpa memandang umur, tanoa memandang siapa, tanpa memandang kapan, seseorang bisa memicu sesuatu, dan dunia bisa begitu terplintir hingga yang tampak hanyalah yang dipermukaan. Namun mommy percaya, abang adalah sebuah kreasi Tuhan yang luarbiasa indah, seperti halnya kakak dan adikmu. Dalam tiap peristiwa, banyak hal yang tak terlihat, mungkin itu yang disebut dengan Hikmah, tapi akhirnya, Tuhan seolah menunjukkan pada mommy, bahwa semua hal, bahkan yang menyakitkan sekalipun, memiliki “Collateral Beauty” nya sendiri. Sebuah efek domino yang sebetulnya memberikan keindahan dalam kehidupan, diantara segala sesuatu yang runtuh, bahkan tampaknya tercerai berai.

Sayangnya mommy, mommy merenungkan kata-kata abang waktu abang menolak mommy menceritakan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi dan menjadi dasar kenapa untuk hal ini dan hal itu. Mommy sampai pada suatu kesimpulan, mungkin memang mommy harus bertanya sekali lagi, apa sih “WHY” atau “Mengapa” dalam hidup mommy yang paling berarti? Apakah, “Mengapa saya bangun pagi ini?”; atau “Mengapa saya memilih hal ini dan bukan hal itu?”; atau “Mengapa saya ikhlas dan bersedia menjadi yang dikorbankan?” dan ‘mengapa – mengapa’ lain muncul dalam pikiran mommy. Dan malam ini, semua bermuara pada satu jawaban, “Karena saya ingin menjadi ‘saya’ yang entah sejak kapan terkubur, karena saya ingin menemukan ‘cinta’ dan memberikan sesuatu pada kehidupan ini”.

Mungkin itu terdengar terlalu muluk, ‘too good to be true’, atau, klise sekali sih, setelah begitu banyak luka dan kekecewaan yang muncul karena kondisi dan situasi, lalu kita punya legitimasi untuk mencari jawaban dari ‘mengapa’ itu dan mengorbankan hal lain? Bisa jadi…
Tapi ketahuilah anakku, mengapa mungkin bukan pertanyaan, tapi sebuah awal yang berperan sebagai energi kita untuk menggapai sesuatu yang tak tergapai, walau dengan harus melepaskan apa yang ada dalam genggaman; dan walau ini sungguh menyakitkan bagi mommy, ternyata yang terlepas dan tak tergapai itu tetap menjadi kekuatan, sedikit banyak, menjadi kekuatan bukan hanya untuk mommy, tapi untuk orang yang mommy temui sejak mommy memutuskan untuk melangkah dan mengorbankan banyak hal demi sesuatu yang sebetulnya mommy harapkan akan bergulir dengan baik.

Megumi Marsha Hutagaol, Frantino Matthew Hutagaol dan Elijah Maleachi Hutagaol adalah tiga jiwa yang Tuhan karuniakan ke dunia ini. Mommy ulangi, waktu abang ada dalam kandungan mommy, mommy langsung tahu Tuhan menjawab doa mommy dengan memberikan seorang anak laki-laki, “the son” yang akan menjaga kakak Megumi. Malam ini, setelah mommy berdoa, mommy terhenyak karena saat mommy mensyukuri karunia Tuhan, menangis karena rindu dan saat berseru pada Tuhan, sebuah kilas balik muncul di ujung benak mommy, dan mommy ingat, doa mommy begitu mommy tahu mommy mengandung abang adalah: “Aku berdoa dan mensyukuri Tuhan mengirimku seorang anak laki-laki yang akan menjadi penjaga anakku Megumi…”, dan hal itulah yang ingin mommy sampaikan pada abang. Dunia boleh terbelah, sang mentari mungkin tak bersinar lagi, tapi anakku, please… always remember, kakakmu membutuhkan perlindungan dan kekuatan darimu, mommy menyadari abang memiliki dunia abang sendiri kelak, mungkin sekarangpun abang telah memiliki kehidupan yang berbeda dengan kakak Megumi, tapi jangan sekalipun membiarkan dia lepas dari kasih sayang abang dan tidak terlindungi. Bila dulu mommy telah siap kehilangan semuanya demi kalian, nyawa mommy pun akan mommy berikan untuk bisa mendapatkan janji abang untuk menjaga kakakmu. Saling mengasihi lah kalian, dan tetaplah membangun hidup kalian untuk kelak bisa saling mengangkat dan menguatkan.

Semoga…..
Ya, semoga….
Hanya itu yang bisa mommy ucapkan pada abang, dengan derai airmata mommy sembari menulis surat ini dengan satu kesadaran bahwa mencintai tak selamanya bisa memiliki, tapi mommy bahagia pernah merasakan detak jantung abang yang berdetak ber-iringan bersama jantung mommy. Mommy mensyukuri setiap detik, menit dan jam waktu abang tumbuh didalam rahim mommy, menggeliat, menendang, dan dipagi indah itu, abang lahir dan memberikan harapan baru bagi mommy untuk memperjuangkan sesuatu setelah mommy mengalami masa yang luarbiasa menyiksa hati, jiwa, tubuh dah pikiran mommy. Sebuah keindahan yang penuh sukacita datang dan menjadi kekuatan mommy bahkan hingga detik ini. Tetqplah menjadi keindahan dan karya Tuhan yang luarbiasa, ya anakku… Karena engkau begitu indah dengan diammu, karena abang begitu indah dengan kerling mata abang saat abang belum mampu berkata-kata, tapi telah memiliki hasrat dan keinginan, karena engkau sangatlah indah saat tertidur sambil menggenggam baju mommy, dan abang teraqmat sangat indah saat bertransformasi menjadi pria yang kelak akan menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk karya muliaNya.

Maafkan mommy ya anakku, maafkan ketidak sempurnaan mommy dan kekurangan mommy, tolong maafkan mommy karena mungkin, karena satu dan lain hal, karena kondisi yang muncul dan segala situasi yang pernah ada,  mommy mungkin bukan contoh yang baik dan pengorbanan mommy berbuah hujatan atas mommy. Tapi kembali lagi, Tuhan melihat semua peristiwa, dan mommy sudah sampai pada satu titik dimana mommy tidak akan mencari jawaban atas apapun, namun hanya akan memberikan semuanya pada otoritas Tuhan, termasuk menyerahkan kalian semua ketangan kudusNya, agar kalian semua memiliki hati seperti Bapa dan semakin indah dihadapanNya.

Dan mulai malam ini, mommy akan menuliskan setiap kenangan, memory indah yang bisa mommy tulis tentang kakak, abang dan adik sejak detik kalian dilahirkan kedunia ini, sebagai catatan betapa kalian telah mewarnai kehidupan ini, paling tidak kehidupan mommy, dengan keindahan yang luarbiasa.

I love you abang, may God be with you…
Always,

Mommy…
Jakarta, 07 July 2017