Instragram

Instagram

Tuesday, 17 September 2013

Untitled - for Mama...



Mama… From where have you learned to wipe the tears?
From who did you learn to cast away the fears?

How did you teach yourself, to quietly endure the pain…
To hide in your heart, the cry, the hurt, the suffering and the complain..

Hear the wind, blows more through here to the skies of heaven,
It passes through the giant rocks, hear it roars this missing remedy even through the ocean.

From what this quite strength built up in your heart?
From where did you learn to always take a part?

This might surprises you, but I have grown to be  a highly qualified fisher-woman,
I caught lights of hopes that floats in this wide sea filled with desperation spread by the demon.

Never again shall I shed tears that represent sadness by this losing agony,
For I learned from you that by letting go I gain the power of dignity in between my bended knee.

From where should I start to sing this everlasting song of admiration?
From what should I carve these words of love and adoration?

And in between the running seasons, shall I keep on dancing in between the tunes of love…
The melody of hope that will never last, like the twinkling stars up on the sky above…

Thank you.. Mama…

Written somewhere in Jakarta, September 17th 2013
(a month away from your birthday, Ma... missing you have taught me the beauty of love and how I grateful for this opportunity to be your daughter, to be a part of your life, once… )

Monday, 5 August 2013

IN THE END...

It's quite funny when we are trying to be somebody for someone by the treatment of that person upon us. And it's amazing to know that the best treatments are able to be placed upon lies and other things beyond our comprehensions.

In the end, we have no one but ourselves to deal with the broken pieces. How do we actually feel? Well, that's a pretty classified thing for anyone to answer. No one actually able to answer to the question, and the more painful the occurrence, the more difficult for us to describe the feeling. And in my understanding, the more we have no power to explain, the bigger the forgiveness possibility for anyone to give. For raging heart always have reasons to tell the pain, while a sincere heart would ask again and again. Sincerely, we would questioned the intention that we cherish as a series of gift in our lives.

But then again, does it really matter anymore?
In the end, we will always have the strength to face the judgement released by those with no comprehension on what actually had happened.
In the end, all we need is the peace of mind, that every single person have the right to judge and say things according to their understanding.
In the end, dreams are pretty abstract to be authorized to be anyone's belonging, but then again, when dreams were shared and cherished, be grateful for the experience. In time when it has been taken away from us, possess the blissful feeling of how you had it once and it's belong to someone else now. Let heaven keep the records and the traces of what you have let go in a sincere way, and let the goodness of life come to you by letting go and embrace other new great new beginnings about to come.

So...
In the end, everything will align as long as we have the sincere heart to acknowledge that lessons aren't just ought to be understood, sometimes we need to believe more and more...

Have a pleasant start of the week to all...
Always, with love
Lisa Fransiska Sitompul
August 5th, 2013



Wednesday, 19 June 2013

Another "Once More"

The more that I know...
The more I cherish this ability to accept and believe...

The more that I know I can do something about it,
The more I choose to let things be and surrender, float beautifully to the speed of the wind of uncertainty...
Dance under the rain with roaring thunders as my beating drums and the lightings as the flashing decorations of my sky...

And the more that I know about the fact that I was nothing more than a filler; the more I feel grateful for I was the chosen one...
For after all said and done, I'm still the same person on the presence of God...
With a single comprehension; I've passed it without saying that I actually had the ability nor the strength to get through it...

And somehow...
The more that I know...
The more that I see...
The more that I feel...
The more that I care...
The more that I dare...
The more that I share...
The more that I love this life of mine...

And everything seems to be more to something with this lively smile inside of me...

For I can still give everything and more to life as much as I will always have more songs to sing and more rhythmic beats to dance to...

In the end...
The more that I know...
The more I have to learn...
Once more...
And another once more after something more that I know...

With love... And more...
Lisa Fransiska Sitompul
June 19th, 2013

Sunday, 16 June 2013

Reaching Greater Aim

The Golden opportunity you are seeking is in yourself. It is not in your surrounding or in luck nor in chances; or the help of others. It is in you alone.
The next question will be:

"Can you embrace the blessings by being grateful to all occurrences and consider it all as a process of grand plans instead on reasons to be untrue to yourself?"

Most people don't realize that when life pulls you backward, when things seem hasn't been going to the way you want them to be; you are simply being appointed to a certain greater aim. Just like an arrow being pulled backward in a bow. The more the pull is, the bigger the energy being stored for you to launch!

The best thing you can do is to surrender to the pull, scan your target, measure the range, and feel the wind's direction. Be ready for the launch! Don't expect anything, the more you have no expectation, the bigger the strength for you and the sincerity to give your best and reach greater aim!

Wishing you all a great Sunday,
With love,
Lisa Fransiska Sitompul
June 16th, 2013

Written to the remembrance of the man who taught me about love and courage. The one who said ,
"I hope you know that I love you so much...and how I love you with all my heart..."
just a moment from his departure to the land of nowhere..

And where ever you are now, my silence prayer will always be with you. With a simple song lingers in my nights for I know it for sure that those words were written by your love, for me.

eras ... usted es ... y siempre serĂ¡ mi MILAGRO

Wednesday, 12 June 2013

Remembering Helmy

Helmy, Lisa tidak pernah tahu nama belakanganya apa, tapi satu hal yang Lisa ingat, Helmy adalah seorang ibu yang baik untuk kedua gadis kecilnya, wanita yang akhirnya mengembalikan rasa percaya nya akan kasih dan cinta dan tetap berserah pada Tuhan.

Kembali ke tahun 2006, diantara hembusan angin dingin kota Ruteng - Flores, Lisa mengenal Helmy untuk pertama kalinya. Wanita sederhana yang datang kerumah kami dan meminta diberi kesempatan untuk bekerja sebagai pembantu. Di hari ke 3 dia datang, Lisa melihat matanya yang sembab dan wajahnya yang sayu,

"Kenapa mbak Helmy? Kok matanya sembab? Mbak baik-baik saja?"

Helmy hanya menunduk dan berkata,
"Tidak apa-apa, mama..."

Merupakan kebiasaan orang Flores untuk memanggil "mama" pada orang yang mereka tuakan dan hormati, dan jawaban Helmy membuat Lisa menarik tangannya dan memintanya duduk bersama di ruang makan kami yang sederhana,

"Mbak Helmy, Lisa tidak menganjurkan mbak Helmy untuk memulai hari dengan kesedihan, buat saya, sangatlah penting bekerja dan berada di tengah-tengah orang yang bahagia dan memandang hidup sebagai sebuah perjalanan indah, bila ada masalah, mbak Helmy bisa selalu bicara dan berbagi dengan Lisa."

Helmy mulai meneteskan airmata dan menceritakan bagaimana kehidupannya.

Suaminya pamit pergi ke Kalimantan untuk mengadu nasib sekitar dua tahun yang lalu, dan sejak dia pergi, tidak ada selembar surat, atau berita dalam bentuk apapun mengingat mereka tinggal di kampung yang sangat terpencil diluar kota kecil Ruteng. Saat suaminya pergi, Helmy tidak tahu kalau ternyata dia mengandung anak keduanya, sehingga saat perutnya membesar, dia sering digunjingkan oleh orang sekampung. Ditambah lagi dengan kondisi suaminya yang sama sekali tidak mengirimkan kabar akan kemana dan dimana keberadaan dia, Helmy memutuskan untuk meninggalkan kampungnya tidak lama setelah anaknya lahir, dan membawa kedua anaknya ke Ruteng. Helmy bekerja sebagai pembantu rumah tangga sejak saat itu, menghidupi kedua anak dan adiknya yang juga ikut dengannya karena tidak tega melihat kakaknya menderita sendiri.

Lisa ingat betapa tangisnya lepas saat Lisa memeluk dia. Lisa biarkan Helmy melepaskan aliran airmatanya dan berkata,
"Mbak Helmy, Lisa nggak bisa berkata apapun kecuali mbak Helmy sekarang memiliki Lisa disini, besok ajaklah anak-anak mbak Helmy saat bekerja, toh besok Lisa tidak ada kegiatan, biar Lisa bermain dengan mereka. Percuma Lisa disini mengurusi perkembangan PAUD kalau anak mbak Helmy sendiri tidak merasakan kasih sayang dan indahnya masa kecil sebagai anak-anak. Tidak lengkaplah perjuangan Lisa disini kalau anak-anak mbak Helmy tidak mendapatkan kesempatan yang sama dengan anak-anak lain yang Lisa bisa peluk dan sayangi disini."

Helmy sempat menangis tersedu-sedu dan hingga akhirnya berkata,
"Baik mama, besok Helmy bawa anak-anak, tapi apa tidak mengganggu dan merepotkan mama?"

Lisa hanya tersenyum dan menggelengkan kepala,
"Kadang Tuhan punya cara yang unik dalam mempertemukan dan memisahkan orang, mbak Helmy, tapi satu hal yang Lisa yakin, kadang kita dipertemukan dan diberikan pilihan yang unik juga. Dan semoga, Lisa bisa jadi bagian dari sesuatu yang kecil dan sederhana, tapi bisa sedikit melegakan kegundahan mbak Helmy."

Helmy mencium tangan Lisa dan Lisa balas ciuman itu dengan memeluknya erat,
"Mbak Helmy, setiap detik dan menit hidup Lisa, Lisa selalu merindukan mendiang papa dan mama Lisa, tidak pernah gampang kehilangan mereka, tapi entah kenapa, setiap Lisa memeluk seseorang yang membutuhkan harapan, Lisa selalu yakin bahwa kepergian mereka untuk menguatkan Lisa, untuk memberikan gambaran bahwa hidup ini indah dan Lisa punya bagian tersendiri dalam kehidupan Lisa yang mungkin akan pendek, sependek hidup papa dan mama Lisa dulu. Tapi satu hal yang Lisa yakini, satu hari hanyalah berlangsung selama 24 jam, dan hari baru selalu datang dengan harapan-harapan dan kekuatan baru. Yang kita butuhkan hanyalah percaya bahwa kekuatiran, kepedihan, dan semua ketidakadilan dalam hidup ini hanya akan berlangsung selama 24 jam dalam sehari, tidak lebih! Dan sekali lagi Lisa tegaskan, mbak Helmy punya Lisa sekarang, Lisa mungkin bukan siapa-siapa dan tidak punya kekuatan apa-apa untuk mengangkat beban mbak Helmy, tapi paling tidak, mbak Helmy tidak berjalan sendiri."

Sejak pagi itu, kehidupan Lisa di kota kecil Ruteng, ibukota Manggarai yang berlokasi di Pulau Flores bergulir dengan penuh keindahan. Helmy bekerja dengan sangat rajin dan menjadi teman Lisa duduk setiap pagi hanya untuk berdiam berduaan, dalam hening; lalu mengucapkan doa dan harapan kami bersama dalam kamar Lisa yang kecil dirumah mungil itu. Dan Lisa selalu memeluk Helmy setiap kami selesai melaksanakan sesi hening itu. Entah kenapa, Lisa bahagia sekali rasanya setiap bisa memeluk Helmy tanpa harus berucap sepatah katapun. Kegiatan yang selalu berlanjut dengan merawat bunga-bunga Lisa ditaman kecil depan rumah kami, lalu berjalan ke pasar dan menyapa semua orang di pasar, berbincang-bincang dengan banyak pedagang sebelum Lisa mulai bekerja atau berkeliling ke beberapa wilayah kecil di seputar kota Ruteng untuk kampanye PAUD, penanggulangan Malaria, AIDS, TBC dan Gizi Buruk. Hari-hari penuh keindahan itu berlangsung selama hampir tujuh bulan hingga Lisa harus bergeser ke Kabupaten Sikka dan pindah ke kota Maumere.

Waktu Lisa mengabari Helmy kalau Lisa akan pindah, Helmy menangis,
"Mama, bawa saya, masa mama ajak Ema tapi tidak bawa saya?"

Lisa hanya tersenyum dan berkata,
"Helmy, Lisa sudah bicara dengan Ibu Ketut, dan dia dengan sangat senang bila Helmy bekerja pada dia, Lisa tidak ingin membawa Helmy ke Maumere. Alasannya tidak usah ditanya, tapi itulah kata hati Lisa, sejauh ini, kata hati Lisa belum pernah salah, sayang. Tolong jangan Helmy merasa tidak adil atau Lisa tinggalkan, karena bahkan Tuhan tahu bagaimana rasa sayang Lisa pada Helmy."

Helmy menangis tersedu-sedu dan hari itu pecahlah kerusuhan di Ruteng karena ketidakpuasan salah satu partai politik atas keputusan KPUD. Siang itu Lisa menyelamatkan Helmy dan anak-anaknya dari tempat kontrakan mereka, membawa mereka ke rumah kami. Helmy membantu ibu Ketut membeli mie instan dan telur, sedang Lisa, dengan bantuan anggota Polres Ruteng, membeli roti, kue dan donat yang tersedia di sebuah toko di pusat kota Ruteng dan mendistribusikannya pada semua anggota pengamanan yang telah bertugas dari pagi tanpa sempat makan sesuap nasipun. Menjelang malam, setelah Lisa mengobati luka-luka Kabag-Ops Polres Ruteng yang terluka karena lemparan batu dan mendokumentasikan kondisi beliau, Lisa meminta Pak Kabag-Ops untuk memerintahkan anggotanya datang ke tempat bu Ketut secara berkala untuk makan malam. Helmy dan bu Ketut telah mempersiapkan hidangan yang jauh dari layak itu untuk sekedar mengganjal rasa lapar pasukan Polres Manggarai ditengah suasana kota Ruteng yang mencekam dan sangat dingin malam itu.

Menjelang tengah malam, Lisa mendatangi Helmy dan meminta dia menjaga anak-anaknya, hingga tiba-tiba dia memeluk Lisa erat dan berkata,
"Mama, kadang saya bertanya-tanya, siapa mama ini, mengapa mama begitu menyayangi saya?"

Lisa balas pelukannya dan berbisik,
"Lisa ya Lisa, Helmy, masa mau kenalan lagi?"

Helmy menahan tawa, dan dia cukup kaget saat itu Lisa bersiap-siap pergi ke sebuah biara di pinggiran kota Ruteng untuk menemui suster-suster disana. Tapi malam itu Lisa memang harus bertemu dengan suster-suster tersebut untuk meminta mereka menjadi jembatan untuk berkomunikasi dengan masyarakat disekitar biara mereka agar tidak terprovokasi dan melakukan tindakan anarkis yang pasti akan berefek cukup besar bagi Kabupaten Manggarai di kemudian hari.

Sekitar jam dua pagi, Lisa kembali kerumah dan menemui beberapa anggota polisi yang berjaga-jaga di depan rumah kami. Mereka kedinginan karena api yang mereka hidupkan dengan kayu seadanya yang bisa mereka temukan disekitar rumah kami hampir padam. Lisa meminta mereka membongkar pagar bambu yang mengelilingi rumah kami dan membakarnya dalam api unggun yang hampir mati itu. Helmy tiba-tiba muncul dan membantu mengambilkan parang ke dalam rumah, subuh itu pagar rumah kami dijadikan api unggun untuk menghangatkan pak polisi yang berjaga-jaga didepan rumah kami. sekitar jam empat pagi, Helmy meminta Lisa untuk tidur, namun Lisa tidak bisa karena masih menunggu kabar dari suster-suster yang Lisa hubungi malam itu.

Pagi itu suasana kota Ruteng sudah mulai pulih, beberapa pedagang pasar yang berdatangan dengan Oto (Truk yang dijadikan kendaraan umum untuk masyarakat Ruteng dengan rute Ruteng ke desa-desa kecil didaerah Ruteng). Mereka cukup kaget melihat kondisi kota Ruteng yang cukup berantakan dan halaman rumah kami yang sudah tidak berpagar. Beberapa pedagang yang biasa singgah kerumah kami menanyakan apakah kondisi kami baik-baik saja dan apakah ada korban jiwa, dan kami sangat bersyukur karena hingga saat itu, tidak ada satu korban jiwapun yang jatuh, baik dari pihak keamanan atau pihak demonstran. Seorang nenek tua yang sering mampir kerumah kami untuk menjual kacang dan ubi-ubian memeluk Lisa dengan erat karena senang mengetahui kami baik-baik saja. Karena banyaknya yang berkunjung, Lisa mempersilahkan mereka untuk masuk kerumah kami,  mereka terkejut melihat barang-barang kami yang telah terkemas rapih, dan akhirnya kepindahan Lisa ke Maumere diketahui oleh mereka.  Sungguh diluar dugaan, ibu-ibu penjual sayur yang kadang menjadi teman Lisa berdiskusi menangis dan protes kenapa Lisa tidak pernah memberitahukan hal itu.

Di hari yang mendung dan dingin itu, kami menyelesaikan persiapan kami untuk pindah ke Maumere, sore harinya, para pedagang pasar berdatangan lagi. Mereka membawa banyak makanan dan minuman, pedagang daging mulai menyalakan api untuk membuat api bakaran, pedagang ayam sudah membawa ayam untuk dibakar juga, suasana rumah langsung riuh dan ramai, karena begitu banyaknya orang yang berkumpul. Sungguh mengejutkan karena mereka ternyata membuat sebuah pesta sederhana untuk melepaskan kepergian Lisa ke Maumere. Malam itu Lisa menggendong anak kedua Helmy sepanjang malam, entah kenapa, Mia rewel sekali malam itu. Pemilik-pemilik toko diseputar kota Ruteng berdatangan, dan makan malam sederhana itu menjadi pesta yang sangat meriah, pemilik radio lokal disana membawa keyboard dan mereka semua bergantian menyanyi untuk Lisa. Bahkan Helmy dan Ema menyanyikan satu lagu daerah Manggarai dan Lisa sempat menahan tangis saat pemilik radio menterjemahkan arti dari lirik lagunya yang menceritakan tentang cantiknya gadis Manggarai (Molas Manggarai). Lagu ceria itu membuat Lisa menangis karena Lisa akan tinggalkan kota indah yang penuh bunga itu hanya dalam beberapa jam lagi.

Pagi telah tiba, barang-barang dinaikkan keatas truk, dan pasar tutup sementara hari itu. Semua berkumpul di depan rumah kami, ubi, pisang, singkong rebus, bahkan kacang rebus berdatangan, nenek tua yang biasa mampir kerumah kami sebelum dia kembali ke kampung setelah menjual ubi atau kacang ke pasar, mendatangi, memeluk Lisa dan menangis tersedu-sedu. Lisa memakaikan pasmina yang memang Lisa siapkan untuk dia, dan mencium pipinya,

"Mama jangan menangis ya? Lisa minta doa mama ya?"

Dia makin keras menangis dan mulai berkata-kata dalam bahasa Manggarai yang Lisa tidak tahu artinya, tapi dari ekspresi Helmy yang juga jadi ikut menangis dan membelai pundak nenek itu, Lisa tahu dia pasti mengatakan hal-hal baik dan mungkin kecewa karena Lisa pergi. Helmy menenangkan nenek itu dan meminta dia duduk karena Lisa harus mandi dan berangkat segera. Setelah Lisa bersiap-siap, memasukkan tas kedalam mobil, Lisa kembali ke kerumunan orang-orang yang akan Lisa tinggalkan, Lisa salami satu persatu, memeluk Polwan-Polwan yang juga sering memanggil Lisa "mama" dan sebelum masuk mobil, Lisa memeluk Helmy yang tidak bisa berhenti menangis. Kedua anak Helmy tidak diikutkan oleh Helmy dan Lisa tahu mengapa, Helmy tidak ingin anak-anaknya melihat Lisa pergi. Dan sebelum Lisa melepaskan tangan Lisa yang memeluk Helmy, Lisa berkata,

"Helmy, baik-baik ya... Ada apa-apa minta ibu Ketut untuk menelpon Lisa. Maaf Lisa tidak ajak Helmy ke Maumere, tapi Lisa sayang Helmy,"

Helmy menangis dalam pelukan Lisa dan entah mengapa, airmata Lisa tertahan karena ingin menunjukkan pada Helmy bahwa dia tetap harus melanjutkan kehidupannya di Ruteng, tanpa Lisa, tanpa Ema yang selama ini menjadi teman dia saat bekerja dengan Lisa. Perjalanan dari kota Ruteng ke Maumere memakan waktu kurang lebih 14 jam, dan sepanjang perjalanan kami hari itu memberikan sedikit keperihan karena kami meninggalkan kota dingin yang indah, Ruteng.

Hari-hari bergulir dengan cepatnya dan tidak terasa sekitar 6 bulan kami di kota Maumere, kami sudah menguburkan salah satu penderita AIDS dan Lisa sendiri tetap semangat menjalankan kampanye Penanggulangan Malaria, TBC, Gizi Buruk dan AIDS, sembari tetap menjalankan program-program PAUD. Tidak begitu banyak cerita dari ibu Ketut, hanya sms-sms singkat tentang kondisi keluarganya, dengan tambahan informasi kondisi Helmy dan anak-anaknya. Hingga disuatu pagi, nama bu Ketut muncul di layar handphone Lisa yang membuat Lisa cukup terkejut. Saat suara bu Ketut terdengar, ada nada yang berbeda dari suaranya,
"Ibu, Helmy mau bicara..."

sesaat kemudian,
"Mama....mama...."
suara Helmy yang bercampur isak tangis terdengar dari seberang sana,

"Iya sayang, ada apa sayang? Apakah anak-anak sehat? Ada apa Helmy?"

Dan mulailah Helmy bercerita bahwa dia begitu ingin ke Maumere, ingin memeluk dan mencium Lisa karena suaminya telah kembali dengan selamat. Tidak banyak yang Helmy ceritakan, karena hampir setiap kalimatnya disisipi ungkapan betapa dia ingin menemui Lisa di Maumere untuk memeluk Lisa. Berkali-kali dia mengatakan terima kasih karena Lisa selalu mengajarkan dia untuk percaya, sembari berteriak ceria dia menyerukan betapa dia bersyukur karena Lisa tidak pernah mengajaknya ke Maumere. Dengan begitu berapi-api, Helmy menyampaikan bahwa dia akan segera berangkat ke Kalimantan dengan suami dan anak-anaknya. Semua telah dipersiapkan selama setahun terakhir ini oleh suaminya.

"Mama, suami aku bilang, setahun terakhir ini semua begitu dimudahkan oleh Tuhan, seolah rejeki begitu banyak mengalir dan dia selalu ingat saya dan anak kami. Dia kerja keras, mama... dan sekarang dia sudah dipercaya sama boss dia, dikasih uang untuk jemput kami dan bawa kami kesana, ada rumah untuk kami disana! Oh mama..., mama... itu adalah masa-masa dimana mama selalu ajak saya duduk berdoa dan mengucap syukur, mama... saya ingin ke Maumere! Bagaimana saya bisa bertemu mama dan cium mama! Mama...saya mau pergi jauh mama, bagaimana saya bisa peluk mama lagi?"

Airmata Lisa menetes dan Lisa berkata,
"Helmy sayang, tidak usah Helmy ke Maumere, lebih baik uangnya untuk pegangan Helmy sekeluarga selama di kapal nanti, Tuhan akan pertemukan kita lagi, itu pasti, Helmy tidak usah kuatir, Lisa bahagia sekali mendengar kabar ini, pergilah Helmy, Tuhan besertamu. Indah lah hidupmu mulai kini bersama orang yang engkau cintai, jaga anak-anak ya sayang, disaat Helmy peluk mereka, ingat kalau Helmy juga peluk Lisa. Lisa titip Pia dan Mia ya sayang, besarkan kedua gadis cantikku itu..."

Terdengar suara Helmy menjerit pilu bercampur aduk dengan perasaan yang Lisa mungkin ikut rasakan juga saat itu, satu hal yang Helmy tidak ketahui saat itu adalah, Lisa sangat bersyukur karena Helmy menghubungi Lisa dan menyampaikan kabar gembira itu. Perasaan indah dan bahagia pernah menjadi seseorang dalam sebagian perjalanan hidup seorang Helmy merupakan kebahagiaan yang ternyata tidak terbeli oleh uang, oleh kemewahan atau benda duniawi lainnya. Masih jelas terngiang suara isak tangis Helmy karena begitu inginnya memeluk Lisa dan hanya Tuhan-lah yang tahu betapa Lisa pun sangat ingin memeluk dan merasakan getaran sukacita yang dia rasakan. Namun entah kenapa, jauh didalam lubuk hati Lisa yang terdalam, Lisa percaya, bahwa walau jarak memisahkan Lisa, hati kami telah bertaut, doa kami telah menyatu dan harapan-harapan kami telah mesra dan intim tercampur dalam doa-doa hening kami. Dan itu semua indah, itu semua tidak terdefinisi, semua itu tidak tergambarkan dengan kata-kata, seperti pelangi yang muncul dengan rapuh setelah hujan panjang.

Dan hari ini, entah kenapa, Lisa mengingat kembali Helmy yang telah memberikan begitu banyak keindahan dalam hidup Lisa. Helmy salah besar bila merasa bahwa Lisa pernah berbuat sesuatu dalam hidupnya, Helmy tidak tahu bahwa sebetulnya dialah yang telah menyelamatkan Lisa, dialah yang telah berbuat begitu banyak dalam hidup Lisa diwaktu pertemuan kami yang singkat itu. Kenangan indah akan saat-saat hening kami duduk berdua dan menyampaikan doa singkat kami, tetesan airmata Helmy saat Lisa berkata,

"Tuhan, dimanapun dia, apapun yang sedang dia jalani, kiranya hanya dengan Engkau lah dia melangkah. Berikan kebahagiaan, mudahkan kehidupannya, dan tetap kuatkan Helmy dan anak-anak untuk tetap percaya, bila memang mereka harus berjalan sendiri, yakinkan mereka bahwa mereka tidaklah berjalan sendiri."

Lisa mensyukuri karena Helmy dulu datang kerumah Lisa di pagi dingin itu.
Lisa merasa terhormat pernah duduk bersama Helmy dan belajar bertekun dalam diam dan keheningan saat memanjatkan doa-doa dan harapan kami.
Lisa bersyukur karena dulu tidak mengajak Helmy ke Maumere.
Dan kini, lisa bersyukur karena kami tidak sempat bertemu sebelum Helmy pergi ke Kalimantan, karnea keindahan yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata dan kondisi yang tidak bisa dirasakan secara fisik ini ternyata tetap indah dan luarbias rasanya.
Entah dimana dia sekarang, namun jauh didalam lubuk hati Lisa, Lisa yakin dan percaya Helmy dan suaminya beserta Pia dan Mia anak mereka  dalam kondisi bahagia.

"Shall it be done, for it is what I believe.."

Merindukanmu dimanapun engkau berada, Helmy, Pia dan Mia...

Always, with love
Lisa Fransiska Sitompul
June 12th 2013



Friday, 7 June 2013

THE UNANSWERED


I think that one of the most essential things in life is the acceptance to all that beyond our comprehension to understand. Expectation would drive us to disappointments that lead to desperation; but then again, what is the foundation of our acceptance upon things?
What is the most devastating thing in life?
What would disappoint you the most?
Life is full of it, you name it!

A dear friend of mine just sent me a picture the other day, and he typed:
“She’s married to someone else now….”
I couldn’t say anything but to say,
“Are you ok, bro?”

At first he replied,
“Yeah, I am fine, never been better…”
Then I asked again,
“Are you alright, my friend?”

He said,
“Not really, can I come to your place?”

Too bad he replied it for more than 30 minutes in which I was already fallen to my deep sleep.

I replied in the morning and said,
“Sorry for not being able to answer your message bro, I was away in my deep sleep when you reply my message.”

And I haven’t received any reply since….

Just now, I had lunch with a colleague and he said,
“I still can’t understand how your mind either your feeling works, you have so many children to call you mommy, you have so many friends that always can come to you and tell you about almost everything, and you still have that popping ideas from your brain to actually create and inspire something! I hope that brain of yours won’t blow up and spread your brain away….!”

I laughed and said,
“It’s funny when things actually go the way you want them to be when you start not to give a damn about anything, bro… But then again, I wouldn’t miss the blessing to be the one to rely on. Sometimes, it takes only a couple of second to say, “Hi dear, what’s up, how are things going” or “Are you alright, bro?” or a simple, “It’s fine, darling, you can get through this eventually…
Last night, I asked someone, “Sorry for disturbing you… But kind of wondering, for what it’s worth; are the things that occurring in your life are actually bringing you closer to what you want?” Well, no reply to the question, but I came to one understanding that the incomprehensible is always the best tool for us to build the strength within. Whatever the answer would be, I hope he’s alright and he’s actually on his way to reach whatever he wished to reach…”

My friend just looked me deep in the eye and said,
“Well Lisa, you always know how to turn things around and make the best of anything to cheer people up or make people realize that life is more than what they have in mind. But what if that man replied to your question and says something bad or something beyond your ability to bear?”


I replied with a smile,
“Well, I didn’t expect anything, frankly speaking, I would be glad if he could reply my question, bad or good, either way would lead to a simple conclusion, which is ‘he actually have the answer to the question’ or ‘he has the guts to face things and admit whatever is occurring ad be able to express it’ bad or good is just a matter of opinion to me. “

My friend said again,
“But he didn’t reply to your Q, so??”

I said,
“Well, the mystery is his and he has all the right to hold on to it. I guess the question itself has put him in certain despair and locked him in the dungeon of his own understandings, thoughts or even disappointments, who knows.  I am not entitled to drive anyone to have the courage to open up what’s been thundering in his or her mind. Even God gives us the privilege to choose, to feel and to escalate things in our lives the way we want them to be. The question wasn’t ought to be answered, it was released by my sincere intention, but I have no expectation upon the respond, my dear friend…”

Once again, he stunned and looked me deep in the eyes, I glanced and winged to him, he laughed and said,
“Life would be great places if we all have the spirit like you do, and I’m glad to be your friend.
Once again I smiled and we continued our discussion about work and how things have been doing in our team. I surely had a good discussion in this lunch time with my friend. And once again, I realize, I always care, even though I said earlier, “It’s funny when things actually go the way you want them to be when you start not to give a damn about anything” . Well, in my case, I don’t give a damn thing about either other people care or not, I do care…. And I will never put myself to rest to care and I don’t need anyone approval upon anything regarding to the matter.

In the end, after all said and done, I came to one simple conclusion,
Life founded by sincere intentions and love will always give you more strength to give, share, contribute and inspire people in an amazing way, they might don’t like it at first, but never put yourself to the rest to give what’s best and put a great deal of love in everything you do. You might be the forgotten one, but your thoughts of pureness filled with sincerity will live and shine eternally

…eventually…


And being left out behind is just a process of finding grander discoveries in life…

Written in Jakarta, June 7th 2013 in between the song “Bu de bu ai” by Phan Wei Po and “Sou Fang Khai” by Lie Seng Cie. Dedicated to my dearest friend, and a special dear friend Charles Pindo.

Always with love.
Lisa F Sitompul

Saturday, 25 May 2013

Beyond the incomprehensible

I have no reason to understand things.
I simply have the courage to believe in goodness within mankind, anything on contrary was introduced by the world.

Most will be dragged into the twirl..

Some will make the acquaintance with sorrow and painful conditions as excuses to loose the goodness within...

Only a few who believe and have the courage to stand up in what's good they were built in and always believe in HOPE of new beginnings after each stroke of unfairness and other incomprehensible things in life..

So...
Take us and persuade our footsteps...
Oh almighty wind...
Let us dance above the cloud oh tenderness...
Shall we sing the song of sincerity for the lost souls...
And allow us to shine and possess the strength to guide them to find their way back home...

Have a pleasant evening to all...

Always, with love
Lisa F Sitompul
May 25th, 2013